A.
Pengertian Laboratorium
Laboratorium
sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat dilakukannya percobaan atau
penelitian. Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan
atap atau alam terbuka misalnya kebun botani. Pada pembelajaran sains termasuk
biologi di dalamnya keberadaan laboratorium menjadi sangat penting. Pada
konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah seringkali istilah
laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu suatu ruangan yang
didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum.(Riandi, 2016).
B.
Alat dan Bahan
Pengenalan
terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas
laboratorium, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut.
Setiap alat yang akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi:
1.
siap untuk dipakai (ready for use)
2.
bersih
3.
berfungsi dengan baik
4.
terkalibrasi
Peralatan
yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian (manual operation).
Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan, dimana buku manual merupakan
acuan untuk perbaikan seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus
senantiasa berada di tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan ada
kemungkinan alat tidak berfungsi dengan baik. Beberapa peralatan yang dimiliki
harus disusun secara teratur pada tempat tertentu, berupa rak atau meja yang
disediakan. Peralatan digunakan untuk melakukan suatu kegiatan pendidikan,
penelitian, pelayanan masyarakat atau studi tertentu. Karenanya alat-alat ini
harus selalu siap pakai, agar sewaktu-waktu dapat digunakan. Peralatan
laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai
digunakan, harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti semula. Semua
alat-alat ini sebaiknya diberi penutup (cover) misalnya plastik transparan,
terutama bagi alat-alat yang memang memerlukannya. Alat-alat yang tidak ada
penutupnya akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang
bersangkutan.
a.
Alat-alat gelas (Glassware)
Alat-alat
gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai.
Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi
sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini seharusnya disimpan pada lemari
khusus.
b.
Bahan-bahan kimia
Untuk
bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada
ruang/kamar fume (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian
juga untuk bahan-bahan yang mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan,
agar udara/uap yang ada dapat terhembus keluar. Bahan-bahan kimia yang
ditempatkan dalam botol berwarna coklat/gelap, tidak boleh langsung terkena
sinar matahari dan sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus.
c.
Alat-alat optik
Alat-alat
optik seperti mikroskop harus disimpan pada tempat yang kering dan tidak
lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa berjamur. Jamur ini yang
menyebabkan kerusakan mikroskop. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop harus
ditempatkan dalam kotak yang dilengkapi dengan silica-gel, dan dalam kondisi
yang bersih. Mikroskop harus disimpan di dalam lemari khusus yang kelembabannya
terkendali. Lemari tersebut biasanya diberi lampu pijar 15-20 watt, agar ruang
selalu panas sehingga dapat mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air).
Alat-alat optik lainnya seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera,
microphoto-camera, digital camera, juga dapat ditempatkan pada lemari khusus
yang tidak lembab atau dalam alat desiccator.(Suyanta, 2010).
C.
Penataan Alat dan Bahan
Penataan (ordering) alat dimaksudkan adalah proses
pengaturan alat di laboratorium agar tertata dengan baik. Dalam menata alat
tersebut berkaitan erat dengan keteraturan dalam penyimpanan (storing)
maupun kemudahan dalam pemeliharaan (maintenance). Keteraturan
penyimpanan dan pemeliharaan alat itu, tentu memerlukan cara tertentu agar
petugas lab (teknisi dan juru lab) dengan mudah dan cepat dalam pengambilan
alat untuk keperluan kerja lab, juga ada kemudahan dalam memelihara kualitas
dan kuantitasnya. Dengan demikian penataan alat laboratorium bertujuan agar
alat-alat tersebut tersusun secara teratur, indah dipandang (estetis),
mudah dan aman dalam pengambilan dalam arti tidak terhalangi atau mengganggu
peralatan lain, terpelihara identitas dan presisi alat, serta terkontrol
jumlahnya dari kehilangan.
Di laboratorium terdapat berbagai macam fasilitas umum lab maupun
peralatan. Beberapa contoh penataan fasilitas umum lab sudah dikemukakan
sebelumnya, pada bagian ini pembahasan akan difokuskan pada penataan alat.
Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan di dalam penataan alat terutama
cara penyimpanannya, diantaranya adalah :
1. Fungsi alat, apakah sebagai alat ukur ataukah hanya sebagai
penyimpan bahan kimia saja
2. Kualitas alat termasuk kecanggihan dan ketelitian
3. Keperangkatan
4. Nilai/ harga alat
5. Kuantitas alat termasuk kelangkaannya
6. Sifat alat termasuk kepekaan terhadap lingkungan
7. Bahan dasar penyusun alat, dan
8. Bentuk dan ukuran alat
9. Bobot / berat alat
Pada
praktisnya untuk melakukan penataan / penyimpanan alat tidak dapat digunakan
secara mutlak menurut fungsinya saja atau menurut kecanggihan dan sifatnya
saja. Cara terbaik disarankan mengkombinasikan di antara aspek-aspek tersebut.
Ketidakmutlakan dalam menerapkan aspek di atas dalam menentukan penataan alat
sangat nampak sekali dalam mata pelajaran sains lainnya seperti fisika dan
biologi. Dalam lab fisika penataan alat seringkali dikelompokkan atas dasar
jenis percobaan seperti alat-alat untuk percobaan listrik, magnet, optik,
panas, cahaya dst. Demikian untuk alat-alat biologi dikelompokkan secara khas
pula seperti penataan untuk alat-alat genetika, ekologi, fisiologi juga ada
model, awetan, gambar dst. Kembali pada sembilan aspek di atas, suatu alat ada
yang memiliki satu fungsi dan yang multi fungsi. Misalnya buret hanya dapat
digunakan untuk mengukur volume zat cair saja, sedangkan pH meter dapat
digunakan untuk mengukur pH dan juga mV.(Ardi Widiatmoko, 2011).
Penataan terkait
erat dengan pengelompokkan, penempatan, penyimpanan dan kemudahan pemeliharaan
dan penggunaannya.
Alat-alat Lab IPA
dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, seperti :
a) Alat
kegiatan (pengamatan & pengukuran), seperti mikroskop, osiloskop,
perangkat alat optik, kamera, anemometer, kalorimeter, timbangan, dsb;
b) Alat-alat
dasar, digunakan untuk melengkapi alat/ perangkat alat percobaan, seperti
gelas kimia, tabung reaksi, pipa kapiler, erlenmeyer, pelubang gabus, selang plastik,
dst;
c) Alat peraga seperti
Kit IPA, termasuk di dalamnya Model,torso, insektarium dan alat-alat lain yang
serupa, digunakan untuk meragakan suatu struktur suatu obyek IPA;
d) Charta, foto,
atau Bagan, digunakan untuk menjelaskan suatu hal;
e) Perkakas dan
alat penunjang seperti obeng, alat bor, tang, catut, gunting, soldier, alat
pemadam kebakaran, Jas Lab, Masker, kulkas, dst yang digunakan untuk
memperbaiki macam-macam peralatan lab.(Suyitno, 2016).
Di laboratorium
terdapat berbagai macam fasilitas umum lab maupun peralatan. Beberapa hal yang
harus menjadi pertimbangan di dalam penataan alat terutama cara penyimpanannya,
diantaranya adalah :
1.
Klasifikasi alat-alat laboratorium
Penataan dan
penyimpanan alat-alat laboratorium sangat perlu memperhatikan karakteristik dan
spesifikasinya, baik untuk alasan keamanan alat, kemudahan pencarian dan
pemeriksaan, perawatan dan pemeliharaan, ataupun sekedar kerapihan penyimpanan.
Oleh karena itu alat-alat laboratorium perlu dikelompokkan atau
diklasifikasikan berdasarkan kritria yang sesuai dengan tujuan pengelompokkannya.
Kriteria klasifikasi alat-alat laboratrorium antara lain adalah bahan utama
pembuatan, massa, bentuk dan volume, pabrik pembuat, usia pakai, konserp
fisika, fungsi atau kegunaan.
· Bahan
pembuatan
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan bahan utama
pembuatannya, misalnya kayu, plastik, kaca, logam, dan sebagainya.
· Massa
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan bobot dan
massanya apakah alat-alat itu ringan atau berat.
· Bentuk
dan volume
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan bentuk dan
ukuran volumenya, misalnya besar, kecil, bola, kubus, balok, silinder dan
sebagainya.
· Pabrik
pembuat
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan produser atau
pabrik yeng membuatnya. Pengelompokkan ini tentu dengan menyebutkan nama PT
pabrik pembuat dan negaranya.
· Letak
dan cara penyimpanannya
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan Letak dan cara
penyimpanan atau cara pemasangannya. Berdasarkan kriteria ini alat dikelompokkan
atas alat-alat permanen dan alat-alat tidak permanen. Alat-alat permanen adalah
alat-alat yang terpasang tetap di bagian tertentu dalam laboratorium, dan
alat-alat tidak permanen adalah alat-alat yang dapat disimpan atau dipindahkan
sesuai dengan kebutuhan penggunaannya.
· Usia
pakai
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan usia pakainya.
Usia pakai adalah waktu yang menyatakan berapa lama atau berapa kali alat itu
dapat digunakan dan berfungsi dengan baik dan benar sesuai dengan
spesifikasinya pembuatannya.
· Konsep
fisika
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan konsep atau
materi fisika yang berkaitan dengannya, misalnya alat-alat mekanika, alat-alat
listrik-magnet, alat-alat optik dan sebagainya.
· Fungsi/kegunaan
Berdasarkan
kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan fungsinya ketika
digunakan apakah sebagai alat ukur yang dapat digunakan pada lebih dari satu
percobaan, sebagai satu set percobaan, sebagai alat peraga, sebagai alat
perbaikan, atau yang lainnya. Pada prakteknya sering terjadi bahwa
pengelompokkan alat-alat didasarkan kepada lebih dari satu kriteria. Berikut
ini adalah alat-alat fisika dikelompokkan atas bahan habis, alat permanen, alat
tidak permanen dan alat perbaikan.
2.
Bahan habis
Bahan habis di
laboratorium fisika dapat terdiri dari bahan material dan alat-alat yang umur
pakainya pendek atau bahkan sekali pakai habis, rusak atau tidak dapat dipakai
lagi. Bahan habis yang benar-benar berupa bahan material misalnya adalah timah
patri, pita kertas ticker timer, kertas karbon, benang, tali, paku keling,
spirtus, alkohol, minyak tanah, bensin, pelumas dan sebagainya, sedangkan bahan
habis yang berupa alat yang usia pakainya pendek misanya adalah berbagai
komponen elektronika .
(a)
Hal-hal yang harus diperhatikan
berkaitan dengan bahan habis antara lain adalah sebagai berikut ini.
· Pemilihan
alat-alat yang harus dimasukkan ke dalam kelompok bahan habis.
· Pemberian
label nama dan atribut yang jelas bagi setiap bahan habis, agar tidak tertukar
penyimpanan dan pemakaiannya.
· Cantumkan
catatan, peringatan dan perhatian cara menggunakan yang tepat dan aman.
(b)
Penyimpanan yang sesuai dengan
karakteristik alat misalnya :
· Tempat
penyimpanan yang tepat apakah dari kayu, plastik, kaca dan sebagainya.
· Ditutup
dengan rapat.
· Tidak
ditutup rapat atau bahkan terbuka
· Suhu
dan kelembaban tempat tempat penyimpanan yang sesuai, apakah bahan harus
disimpan di tempat yang kering, di tempat yang sejuk, jangan di tempat yang
lembab, atau harus dalam lemari es atau frezer, di tempat yang terang atau
gelap dan sebagainya.
· Bila
bahan habis termasuk bahan yang mudah terbakar, maka harus disimpan jauh dari
sumber api atau sumber panas, atau bahkan membelinya jangan terlalu banyak,
cukup sekali pakai habis saja.
· Perhatikan
batas waktu pemakaian dan kadaluarsanya.
· Pengadaan
yang sesuai dengan kebutuhan, jangan sampai berlebihan sehingga sisa menjadi
lewat bataas waktu pemakaian atau kadaluarsa.
· Termasuk
ke dalam bahan habis adalah bahan-bahan (padat, cair, gas) pembersih seperti
sabun dan pembersih lantai, cairan khusus pembersih lensa, lap, tissue dan
sebagainya.
3.
Alat-alat permanent
Alat-alat permanen
adalah alat-alat fisika yang disimpan dan sekaligus dipasang (siap digunakan)
di tempat tertentu, tidak harus atau bahkan tidak boleh dipindah-pindahkan
tempatnya. Beberapa contoh alat yang dapat dipandang sebagai alat permanen
misalnya adalah:
· Barometer
untuk mengukur tekanan udara di laboratorium
· Termometer
suhu ruangan untuk mengukuir suhu udara di laboratorium.
· Higrometer
untuk mengukur kelembaban udara dalam ruangan laboratorium.
· Bandul
fisis.
· Pesawat
Ethwood.
· Foto,
diagram, gambar, poster, contoh grafik.
· Pembakar
bunsen dan instalasi gasnya.
Pemasangan
alat-alat permanen hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini :
· Pemilihan
tempat yang stategis untuk pengamatan atau bahkan melakukan percobaan.
· Ketepatan
posisi pemasangan di tempat yang sudah ditentukan.
· Tempat
pemasangan dan alat yang dipasang ditempat itu harus terhindar dari
faktor-faktor yang dapat mengganggu atau merusak alat seperti panas matahari,
kelembaban, banyak getaran dan sebagainya.
· Setiap
alat permanen dapat diberi kartu alat yang menjelaskan nama dan atribut-atribut
lain alat tersebut seperti jumlah, spesifikasi, asesoris dan tempat penyimpanannya.(Herowati,
2016).
D.
Daftar Pustaka
Herowati. 2016. “Petunjuk Praktikum PENGELOLAAN
LABORATORIUM revisi kelima”. Sumenep: FKIP Press.
Riandi. 2016. “PENGELOLAAN
LABORATORIUM”. Dalam http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196305011988031-RIANDI/Bahan_Kuliah/Pengelolaan_Laboratorium.pdf 29
November.
Suyanta. 2010. “MANAJEMEN
OPERASIONAL LABORATORIUM”. Dalam http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyanta-msi-dr/manajemen-lab.pdf 29
November.
Suyitno. 2016. “TATA
LETAK ALAT LABORATORIUM IPA”. Dalam
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyitno-aloysius-drs-ms/tata-letak-alat-lab.pdf 29 November.
Widiatmoko, Ardi.
2011. “PENATAAN DAN PENGADMINISTRASIAN ALAT DAN BAHAN LABORATORIUM KIMIA”.
Dalam https://ardiwidiatmoko.files.wordpress.com/2011/11/penataan-laboratorium-kimia1.pdf 29
November.

The casino: Online slots, blackjack, poker - JSHub
BalasHapusThis website 거제 출장샵 uses 창원 출장샵 cookies. By continuing to use this site, 전주 출장마사지 you agree 동두천 출장마사지 to our use of cookies. Read our cookie 의왕 출장안마 policy. Learn more.